HP. 085 725 363 887

Pencarian

Memuat...

Sabtu, 15 Juni 2013

SP 038 : Hubungan Pengawasan Pimpinan Dengan Displin Kerja Pegawai Negeri Pada Kantor Cabang Dinas Lalu Lintas Dan Angkutan jalan Raya Daerah Tingkat II Kabupaten XXX


ABSTRAK

Dalam suatu organisasi baik instansi pernerintah mauptm swasta. Untuk menjamin kelancaran pekerjaan yang dilakukan pegawai agar penyelenggaraan pekerjaan tersebut sesual dengan apa yang telah direncanakan, maka perlu adanya pengawasan. Tujuan pengawasan bukanlah untuk mencari-cari kesalahan seseorang melainkan untuk memperbaiki tindakan-tindakan yang menyimpang dari peraturan dan rencana yang ada sehingga dapat rnenurnbuhkan rasa disiplin bagi para pegawai. Bertitik tolak dari uraian tersebut di alas maka penelitian ini dilakukan dengan mengambil judul :"Hubungan Pengawasan Pimpinan Dengan Displin Kerja Pegawai Negeri Pada Kantor Cabang Dinas Lalu Lintas Dan Angkutan jalan Raya Daerah Tingkat II Kabupaten XXX".
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :"Ada hubungan yang positif dun signifikan antara pengawasan pimpinan dengan disiplin kerja pegawai pada Kantor Cabang Dians Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya Daerah Tingkat II Kabupaten Ngawi. Untuk mengetahui seberapa basar pengaruhnya hubungan antara pengawasan pimpinan dengan disiplin kerja pegawai digunakan rurnus korelasi jenjang Spearman (rs).

Hasil analisis hubungan antara pengawasan pimpinan dengan disiplin kerja pegawai berdasarkan : (1) analisa hubungan variabel dengan menggnmakan rumus korelasi tata jenjang (rs) dari Spearman, koetisien korelasinya (rs-nya) diperoleh angka 0,50 yang berarti korelasi antara kedua variabel adalah positif. (2) Untuk mengetahui signifikan tidaknya digunakan ttest Dari hasil perhitungan diperoleh angka sebesar 3,1623. Dan thasil perhitungan kernudian dikonsultasikan dengan label distribusi t, ternyata thasil dari perhitungan lebih besar bila dikonsultasikan dengan label distribusi t, dengan taraf kepercayaan 95%, diuji satu sisi pada df = 30 diperoleh angka sebesar 1,697, maka korelasinya signifikan. Berdasarkan hasil analisis tersebut hipotesis yang penulis ajukan terbukti kebenarannya.


DAFTAR PUSTAKA

A.A. Gondokusumo, Komunikasi Pembangunan, Gunung Agung, Jakarta, 1990
Alfred R. Lateiner, Terjemahan Iman Sardjono, teknik Memimpin Pegawai dan Pekerja, Cemerlang, Jakarta, 1991.
Alex S. Nitisemito, Management Personalia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1992.
Ds. Widodo, Pokok-sokok Penjertian Ilmu Adminsitrasi Ke.e:awaian, BPA­AAN, Yogyakarta, 1990.
Ig. Surono, Disiplin Motivasi Semangat Kerja Karyawan, Intan Klaten, 1991. Mukiyat, Management Kepegawaian, Alumni Bandung, 1990.
N.H. Saragih, Asas-Asas Organisasi dan Management, Tarsito, Bandung, 1992. M. Manullang, Dasar-Dasar Management, Medan, CV. Amalahan, 1992. Sarwoto, Dasar-Dasar Management, Ghalia Indonesia, Jakarta 1990.
Sukanto Reksohadiprojo, Dasar-Dasar Manajemen, BPFE-UGM, Yogyakarta, Edisi ke-4, 1983.
Sukarno, Prinsip-Prinsip Umum Management, Alumni Bandung, 1989.
Soewarsono Handayaningrat, Ilmu Administrasi Management, Gunung Agung, Jakarta, 1990.
SP. Siagian, Filsafat Administrasi, Gunung Agung, Jakarta, 1991. Winardi (Penerjemah), Asas-Asas Management, Bandung, 1991.
W. Gulo, Dasar-Dasar Statistik Sosial, Satya Wacana, Semarang, 1983.


Untuk mendapatkan file lengkap silahkan hubungi/ sms ke HP. 085 725 363 887


Rabu, 12 Juni 2013

PT-001: Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor faktor Produksi Pada Usahatani Kubis


RINGKASAN

Skripsi dengan judul "Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor faktor Produksi Pada Usahatani Kubis" disusun berdasarkan hasil penelitian usahatani kubis di Kabupaten Tegal yang dilaksanakan pada bulan Maret- April 2000.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biaya. penerimaan dan keuntungan dari usahatani kubis, mengkaji pengaruh beberapa faktor produksi terhadap produksi kubis dan mengkaji efisiensi ekonoini penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani kubis. Faktor-faktor produksi yang dikaji adalah luas lahan , benih, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk kandang, pupuk SP-36, pupuk KCI dan pupuk ZA. Untuk mengetahui hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksi, digunakan model fungsi produksi Cobb-Douglass yang kemudian dianalisis dengan analisis regresi linier berganda. Pendekatan yang digunakan untuk mencapai kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi yang optimal adalah meminimumkan biaya.
Metode dasar penelitian menggunakan metode deskriptif analitis abstrak. Lokasi penelitian di kabupaten Tegal. Dari kabupaten tersebut diambil sampel kecamatan secara sengaja (purposive), dengan kriteria kecamatan tersebut merupakan penghasil kubis yang memiliki luas tanam dan produktivitas terbesar di kabupaten Tegal terpilih kecamatan Bumijawa. Dan kecamatan terpilih diambil dua desa dengan kriteria desa penghasil kubis yang produktivitasnya lebih besar dibanding produktivitas rata-rata di kecamatan tersebut, terpilih Desa Batumirah dan desa Sawangan. Dari dua desa terpilih ditetapkan 30 orang petani kubis sebagai sampel, dari tiap desa ditetapkan secara proporsional random sampling. Penentuan petani sampel dilakukan secara acak dengan cara undian. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.
Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan sebesar 9.112 m2. Rata-rata penggunaan faktor produksi yang lain per hektarnya adalah benih sebesar 0,115 kg, tenaga kerja sebesar 265,67 JKO, pupuk urea sebesar 181,60 kg, pupuk kandang sebesar 3.253 kg, pupuk SP-36 sebesar 45,83 kg, pupuk KCI sebesar 26 kg dan pupuk ZA sebesar 55,83 kg. Rata-rata produksi kubis per hektar sebesar 10.000,00 kg, total penerimaan usahataninya rata-rata sebesar Rp. 9.890.437,52 per hektar., biaya rata-rata per hektar sebesar Rp.2.670.925,44, keuntungan yang diperoleh rata-rata Rp. 7. 219.511,989 per hektar.
Hubungan fisik antara faktor-faktor produksi kubis dengan produksi kubis digunakan model fungsi produksi Cobb-Douglass. Hasil analisis regnesi diperoleh model fungsi produksi Cobb-Douglass Y= 1,8414.X10,1600. X20,0926 X30,4317 X40,2496 X50,0232 X60,0366 X70,0366 X80196 Hasil analisis regresi menunjukkan faktor produksi luas lahan, benih, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk kandang, pupuk SP-36, pupuk KCI dan pupuk ZA secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi kubis. Faktor produksi yang berpengaruh paling dominan adalah faktor produksi tenaga kerja.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa nilai penjumlahan dari koefisien regresitor produksi lebih besar dari satu yang berarti bahwa skala usaha berada pada kondisi'increasing Return to Scale". Pada kondisi ini skala usaha berada pada tahap produksi I atau tahap tidak rasional, sehingga pendekatan keuntungan maksimum tidak tepat digunakan. Untuk itu menggunakan pendekatan meminimumkan biaya dengan melihat perbandingan produk fisik marginal dengan harga faktor produksi. Dan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi yang digunakan untuk mencapai kondisi yang optimal.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. .Iurnal Holtikultura. Badan dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Holtikultura. Jakarta. Indonesia.
Bishop, C. E dan W.D. Toussaint, 1979. Pengantar Analisis Ekonomi Pertanian. Mutiara Jakarta.
Faisal, S, 1999. Format format Penelitian Sosial. PT Raja Grafindo Persada Jakarta
Gujarati,D dan Zain, S, 1995. Ekonometrika Dasar. Erlanga. Jakarta. Hemanto,
F, 1993. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mubyarto, 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta '
Nawawi, H.H dan Martini H.M, 1996. Penelitian Terapan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Prasetya, P, 1996. Ilmu Usahatani II. UNS Press. Surakarta.
Permadi, A.H. dan Sudarwohadi, S, 1993. Kubis. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.Balai Pertanian Holtikultura Lembang
Singarimbun, M dan Effendi, 5.1989. Metode Penelitian Survei. LP3ES. Jakarta.
Soekartawi, 1990. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass. CV Rajawali. Jakarta.
 _____ , 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasinya. CV. Rajawali. Jakarta.
Supranto, S,1995. Ekonometrika Buku Satu. Lembaga Penerbit FE UL. Jakarta. 
______ , 1995. Ekonometrika Buku Dua. Lembaga Penerbit FE UL Jakarta
Yunandari,B. 1998. Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor faktor Produksi Pada Usahatani Kubis di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Skripsi S-1 Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta,.



Untuk mendapatkan file lengkap silahkan hubungi/ sms ke HP. 085725363887


Senin, 10 Juni 2013

Pw003 : Hubungan Penerapan Aspek Spiritualitas Perawat Dengan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pada Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit xxx


ABSTRAK

HUBUNGAN PENERAPAN ASPEK SPIRITUALITAS PERAWAT DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA PASIEN RAWAT INAP
 DI RUMAH SAKIT XXX



Dari data yang diperoleh di ruang perawatan bedah Rumah Sakit XXX, jumlah klien rawat inap pada tahun 2007 sebanyak 335 dengan jumlah perawat diruang perawatan bedah sebanyak 15 orang, di ruang perawatan 1 sebanyak 16 orang dan perawatan 2 sebanyak 18 orang. Dengan melihat banyaknya jumlah klien disetiap ruang perawatan maka sudah sepantasnya perawat mampu memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual yang lebih. Bertolak dari hal tersebut diatas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Penerapan Aspek Spiritualitas Perawat Dengan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit XXX th 2008”.
Desain penelitian ini bersifat analitik deskriptif dengan menggunakan metode desain Cross Sectional untuk melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling. Data diperoleh melalui kuesioner  yang diolah dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 12.00.
Hasil Analisis hubungan antara penerapan aspek spiritualitas perawat dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien diperoleh bahwa terdapat 24 (80%) responden yang pemenuhan kebutuhan spiritual pasien cukup dan penerapan aspek spiritualitas perawat baik, tetapi terdapat 0 (0%) responden yang pemenuhan kebutuhan spiritual pasien kurang dan penerapan aspek spiritualitas perawat baik, sedangkan terdapat 4 (13.3%) responden yang pemenuhan kebutuhan spiritual pasien cukup dan penerapan aspek spiritualitas perawat kurang serta terdapat 2 (6.7%) responden yang pemenuhan kebutuhan spiritual pasien tdak terpenuhi dan penerapan aspek spiritualitas perawat kurang.
Hasil uji statistik diperoleh nilai ρ = 0.034 < α = 0.05, oleh karena  ρ < α maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti terdapat hubungan penerapan aspek spiritualitas perawat dengan pemenuhan kebutuhan spiritualitas pasien di Rumah Sakit xxx Tahun 2008. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kebutuhan spiritual pasien terpenuhi dibandingkan dengan kebutuhan spiritual pasien yang tidak terpenuhi.

Kata Kunci : Penerapan Aspek Spiritualitas Perawat, Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pasien
Pustaka       : 12 (2000 – 2008)


DAFTAR PUSTAKA

Ali H.Z., 2002, Dasar-Dasar Keperawatan Profesional, Widya Medika, Jakarta.
Alimul, Aziz H., 2003, Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Edisi 1, Salemba Medika, Jakarta.
Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan Konsep Dan Aplikasi, Salemba Medika, Jakarta.
Ellis, Gates, Kenworthy, 2000, Penjamin Kualitas Dan Konsep Keperawatan: Metode dan Studi Kasus, EGC, Jakarta.
Hamid A.Y., 2003, Buku Ajar Aspek Spiritualitas Dalam Keperawatan, Widya Medika, Jakarta.
Hidayat, Komaruddin, 2006, Psikologi Kematian; Mengubah Kematian Menjadi Optimisme, Arcan, Yogyakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi revisi, Rineka Cipta, Jakarta.
Nursalam, 2003, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, edisi I, salemba medika, Jakarta.
Potter dan Perry, 2005, Keperawatan Fundamental, Vol. 1, Edisi terjemahan, EGC, Jakarta.
Sugiyono, 2001, Statistik Non Parametris, CV. Alfa Beta, Bandung.
Tarwoto dan Wartonah, 2003, Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.
Wijono D., 2000, Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, Air Langga University-Press, Surabaya.


Untuk mendapatkan file lengkap silahkan hubungi/ sms ke HP. 085725363887


Jumat, 07 Juni 2013

Pd 002: PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN CAMPURAN COMFEED DAN TEPUNG GAPLEK KETELA PHON (Manihot Utilissima) DALAM KONDISI KANDANG YANG BERBEDA, TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN BERAT BADAN PUYUH JANTAN (Coturnix Coturnix Japanica)


ABSTRAKSI

PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN CAMPURAN COMFEED DAN TEPUNG GAPLEK KETELA PHON (Manihot Utilissima) DALAM KONDISI KANDANG YANG BERBEDA, TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN BERAT BADAN PUYUH JANTAN (Coturnix Coturnix Japanica)

Daging puyuh sekarang ini sudah tidak kalah pamor dibandingkan dengan daging ternak lainnya. Daging puyuh mengandung 10% protein, sedang lemaknya rendah hanya 7,7% saja dan cara pemasakaanya pun tidak sulit.
Daging puyuh umumnya diambil dari puyuh yang sudah tidak produktif yaitu puyuh betina yang kemampunanya mengahasilkan telur sudah menurun atau puyuh jantan yang tidak terpilih sebagai pejantan.
Di masa sekarang ini anyak peternak burung puyuh yang tidak mau memelihara burung puyuh pedaging, karena dalam membesarkan puyuh pedaging sebelum siap untuk di jual memerlukan biaya yang tinggi maka banyak peternak puyuh yang mengalihkan makannhya, yang seharusnya menggunakan BR II merk comfeed karena harganya mahal lalu diganti dengan PP (puyuh telur) merk comfeed yang harganya lebih murah. Tetapi untuk puyuh pedaging hasilnya sangat rendah, sehingga banyak puyuh yang kurus, jadi harga puyuh pedaging sangat rendah.
Akan tetapi masalah tersebut dapat diatasi dengan memberikan makanan tambahan berupa tepung gaplek ketela pohon. Memang tidak mudah dan sembarangan melakukannya, karena tepung gaplek ketela pohon mengandung glukosid. Karena itu dalam mencampur ransum unggus ini hendaknya sebanyak 10% dalam ransum puyuh tidak menghambat pertumbuhan. Tapi ingat, penggunaan dosis yang berlebihan dalam ransum akan terlihat hambatan pertumbuhan yang nyata.
Tepung gaplek ketela pohon mengandung unsur- unsur yang dapat menambah laju pertambahan berat badan puyuh, seperti unsur ptotein, energy, vitamin mineral dan air.
Pengamatan atau analisis data yang telah diperoleh dnegan mengunakan analisis varian (ANAVA) dan rancangan acak kelompok factorial (RAKF) dengan rumus pokok: JKT = JK (X) + JK ( P) + Jk (X x P) +JKG.
Dari hasil perhitungan diperoleh baha F hitung > F tabel sehingga Ho ditolak. Jadi hipotesa diterima. Dengan uji signifikan diperoleh bahwa factor kandang dewasa mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan berat badan puyuh dan perlakuan yang paling baik adalah perlakuan P2 dengan konsentrasi 20 gram tepung gaplek dan 500 gram PP.
Dariu hasil penelitian diperoleh kesimpulan:
1.      Kandang berpengaruh terhadap pertambahan berat badan puyuh jantan.
2.      Tepung gaplek berpengaruh terhadap pertambaha berat badan puyuh jantan.
3.      Kandang dan makanan berinteraksi dalam mempengaruhi pertambahan berat badan puyuh jantan.



DAFTAR PUSTAKA

………. , buku pedoman penyusunan skripsi, Fakultas keguruan dan ilmy pendidikan universitas muhammadiyah, Surakarta, 1989
Allen D. Tillman, ilmu makanan ternak sadar, gadjah mada, universitas press, Yogyakarta, 1989
Edwin soedjarwo, membuat mesin tetas sederhana, penerbar swadaya, Jakarta, 1991
Elly Listiyowati, tata laksana budidaya puyuh secara komersial, penerbar swadaya, Jakarta, 1992
Herman chan, pemeliharaan dan cara pembibitan ayam petelur, penerbiatan andes utama, Jakarta, 1988
Iboson sumono, pengelolaan statistic, UNS pres, Surakarta, 1992
Kemas ali hanafiah, rancanan percobaan teori dan aplikasi, citra niaga rajawali press, Jakarta, 1993
Muhammad rasyaf, MS, memelihara burung puyuh, penerbit kanisius, Yogyakarta, 1989
Nugroho, beternak burung puyuh, eka offset, semarang, 1990
Pinus lingga, bertanam ubi-ubian, penerbar swadaya, Jakarta, 1991
Suhubdy yasin, fungsi dan peranan  zat- zat gizi dalam ransum ayam petelur, mediyatama sarana perkasa, Jakarta, 1988
Winarno, pengantar penelitian ilmiah dasar, metode dan teknik, peneebit rtarsito, bandung, 1990
REFERENSI LAINNYA 


Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887


Senin, 03 Juni 2013

Kd 005 : Perbedaan Angka Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik Berdasarkan Derajat Berat Merokok Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta


ABSTRAK
Jumlah penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Indonesia meningkat dari waktu ke waktu. Faktor yang menyebabkan peningkatan itu antara lain adalah meningkatnya jurnlah penduduk yang merokok. Risiko PPOK meningkat seiring dengan lamanya merokok dan jumlah batang rokok yang dihisap per hari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan angka kejadian PPOK berdasarkan derajat berat merokok.
Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectionall. Subyek penelitian adalah pasien rawat jalan dan rawat inap di Bagian Penyakit Paru RSDM Surakarta dengan criteria perokok / mantan perokok. Sampel yang diperoleh 30 sampel yang terdiri dari 15 sampel PPOK (+) dan 15 sampel PPOK (-). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Chi Square lest menggunakan program SPSS 10,0 for windows 2000 dengan taraf signifikan 0,05.
Hasil perhitungan X2 dengan d.b=2 dan a = 0,05 adalah 1,763 sedangkan X2 tabel adalah 5,996 sehingga H0 diterima dan sebaliknya H1 ditolak yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kejadian PPOK berdasarkan derajat berat merokok.


Kata kunci : Penyakit Paru Obstruktif Kronik - Derajat Berat Merokok



DAFTAR PUSTAKA

Abiyoso (2002). Diagnostik Dini Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Pertemuan Ilmiah Paru Millenium. Surabaya. pp: 1-6.
Antonius Sianturi dan Faisal Yunus (1998). Bedah Reduksi Volume Paru pada Penderita PPOK. Jurnal Respirologi Indonesia, l8.pp: 111-122.
A.W. Pratiknya (1986). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. CV. Rajawali. Jakarta. pp: 12-194.
Bhisma Murti (1996). Penerupan Metode Statislik Non-Parametrik dalam Ilmu­ilmu Kesehatan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. pp: 28-51
Britton J, Jarvis M, Mc Neil A, Bates C, Cuthbertson L, Godfrey C. Penanganan Adiksi Nikotin, 2002. http://www.pdpi.malang.com
Drastyawan, Aditarna, Yunus (2001). Pengaruh Asap Rokok terhadap Saluran Napas. Jurnal RSUP Persahabatan Jakarta. Vol L No. I Oktober 2001, p:33
E.Soeria Soemantli (1990). Bronkitis Kronik dan Emfisema Paru, Dalam: Soeparmun Sarwono Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Balai Penerbit FK UI. Jakarta.pp: 753-758.
Faisal Yunus (2000). Gambaran Penderita PPOK yang Dirawat di Bagian Pulmonologi FK UI / SMF Paru RSUP Persahabatan. Am J Respir Indo. 20, pp:64-74
Faisal Yunus (2001). Rehabilitasi PPOK..jurnal Respirologi Indonesia, 21.pp: 138-140.
Fajriwan, Anwar Risuf (1999). Merokok Pasif Jurnal Respirologi Indonesia, 19.pp: 22-25.
Fletcher. RH, Fletcher SW, Wagner EH (1991). Risiko. Sari Epidemiologi Klinik Ed II. Gajah Mada University Press. Yogyakarta, pp: 131-132.
Fraser R.G, Pare J.P (1990). Chronic Obstructive Pulmonary Disease, In: Diagnostic of Disease of the Chest, 3th.ed,III W.B. Saunders Co. Philadelphia. pp: 2087-166.
Honig E.G, Ingrain R.H.Jr (1998). Cronic Bronchitis, Emphysema, and Airways Obstruction, In: Harrison's Principles of Internal Medicine, 14th.ed, Vol.2. USA. McGraw-Hill Companies, Inc. p: 1452.
Karnen Baratawidjaja (1990). Asma Bronkial, Dalam Soeparman-,Sarwono Wuspudji, Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 11. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. p: 30.
Muhammad Amin (2001). Patologi dan Patogenesis PPOK. Ilmu Ilmiah Respologi 2001. Surakarta 24-25 Maret 2001, pp: 16M-18M.
Muhamad V.G, S. Sastromihardjo, S.R Soedjarwo, T.S. Soelaryo (1995). Studi Cross Sectional, Dalam : Sudigdo Sastroasmoro Sofyan Ismael. Dasar-dasar Metodologi Klinis. Binarupa Aksara. Jakarta. pp:66-7.
Nadel J.A (2000). Obstructive Disease: General Principles and Diagnostic Approach, In: Mirrray J.f: Text Book og Respirutory Medicine, Philadelphia, W.B. Saunders Co. p: 1178.
Nancy  H.        Tobing,            Rokok dan      Kesehatan       Respirasi,         2002. http://www.pdpi.malang.com
Nevins M.L. and Epstein S.K (2001). Predictors of Outcome for Patiens With COPD Requiring Invasive Mechanical Ventilation. Chest, 119.p: 1840.
Perhimpunan Dokter Pam Indonesia (2000). PPOK, Tantangan dan Penatalaksanaan di Abad 2 1. Pertemuan llmiah Khusus 2000.
Pratiwi (1998). Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap tingkat Kebersihan Mulut. kumpulan Naskah Temu Ilmiah Nasional I, Jakarta, Gnip PT Kalbe Farina, pp:545-550.
Siregar et al.( 1984). Kebiasaan Merokok pada Mahasiswa baru Universitas Sumatra Utara Medan. Majalah Kedokteran Indonesia Vol 34 No 4, pp: 156-157.
Tim Kelompok Kerja PPOK PDPI (2001). PPOK, Pedoman Diagnosis dan Penalataklaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia pp: 1-12.
Tjandra Y Aditarna (2001). Masalah Merokok dan Penanggulangannya. Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta.pp: 1-19.
Tjandra Y Aditarna. Pam Kita Masalah Kita, 2002. http://www.idionling.org
Wilson L M (1995). Penyakit Pernapasan Obstruktif, Dalam: Price &- Wilson, Patofisiolugi- Konsep Klinis Proses proses Penyakit, ed 4. Buku 2. Penerbit BukuKedokteran EGC. Jakarta. pp: 688-693



Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887